Sabtu, 16 Juni 2012

Cerpen karyaku




Diamond


Ku pukul bahu Rezky sambil berkata, “ Kemana saja kau selama ini, kenapa tidak memberiku  kabar dan tidak pernah menghubungiku? “, dia pun menjawab sambil mengaduh kesakitan, “ Aduhhh...duhhh..., aku pergi untuk sekolah lagi pula aku gak mau kamu sedih karena aku pergi, itu semua aku lakukan untuk kamu, Diamond karena cuma kamu yang aku sayang. Kau tahu bahwa Diamond adalah nama Kesayanganku untukmu dan saat masih kecil aku pernah bermimpi bahwa aku akan menikah dengan sebuah berlian, dan berlian itu adalah kamu.
òòò



Matahari yang menyengat membuatku lemas, walaupun sebenarnya aku adalah orang yang mempunyai golongan darah O. Daun yang berada disekitarku berguguran seolah mencari tempat berteduh dari panasnya matahari yang menyengat. Aku yang sedang bersantai di pinggiran taman tampak seolah tenang dengan keadaan taman yang tidak begitu ramai, panas yang menyengat membuat tenggorokanku kering dan untung saja, saat di persimpangan jalan menuju taman, aku telah membeli beberapa snack dan minuman serta bubble si permen karet favoritku. Kuambil sebotol minuman yang sudah terbuka segera saja kuminum air tersebut. Sambil menikmati minumanku, aku juga menyempatkan untuk memakan satu permen karet favoritku. Saat itu hatiku benar-benar tentram karena tidak ada seorangpun yang menggangguku, tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari balik pohon yang berada dibelakangku. Saat kutengok tidak ada siapapun disana tanpa ku hiraukan lagi aku kembali fokus menyegarkan otakku. Oh ya, perkenalkan namaku Calissa Indah Diamond. Aku merupakan anak pertama dan aku memiliki seorang adik laki-laki, kedua orang tuaku adalah seorang pemilik perusahaan perhiasan ternama di Indonesia tentunya dan itulah alasan kenapa aku diberi nama Calissa Indah Diamond. Aku juga orang yang cukup tersohor disekolahku karena kesempurnaan yang kumiliki bukannya sombong, didalam prestasi aku sangat baik, wajah perfect, dan sikap good.
òòò
Kehidupanku masih normal seperti biasa tidak ada yang berubah, tapi itu tidak bertahan lama. Saat roda sudah berputar aku benar-benar tidak tahu apa aku berada di atas atau di bawah. Beberapa hari ini aku mendapat banyak kesialan yang tidak terduga, dari saat aku berangkat ke sekolah, dasiku hilang, bukuku basah karena disiram adikku dan saat pulang ke rumah, aku tergelincir di teras depan, dan menabrak meja. Gara-gara ini aku tidak bisa bersekolah berhari-hari. Keesokan harinya, saat aku sedang berada di teras dekat kolam renang. Adikku Raka diam-diam mengambil headphone kesayanganku, saat aku melihat ia memakai headphone aku berusaha untuk mengambilnya kembali. Tiba-tiba datang sebuah mobil Mercedez Benz hitam yang berhenti tepat di depan rumah kami. Lalu keluar seorang lelaki yang sebaya dengan ibu dan ayahku menyapa ibuku, ibuku pun mempersilakannya masuk dan menyuruhnya menunggu sementara ayah turun. Aku yang masih berlari terseok-seok karena kakiku yang masih memar, berusaha mengambil kembali headphoneku dari Raka tapi Raka malah membawaku berlari hingga ke teras depan dan tiba-tiba aku menabrak seorang laki-laki yang sedang membawa sebuah bingkisan. Bingkisan tersebut terlempar ke atas dan aku pun terjatuh hampir menyentuh lantai dan, untungnya tidak karena aku diselamatkan oleh laki-laki tadi. Tiba-tiba mataku terpana saat menatap matanya yang bewarna biru pekat bercampur putih warna awan. Lalu dia bertanya, “ apa kau baik-baik saja? “, Aku yang masih termangu diam tidak menyapa lalu dia melambaikan tangannya tepat dimataku dan membuatku tersadar dari lamunanku. Akupun menjawab dengan cepat, “ Ya, aku baik-baik saja “. Segera ku punguti bingkisan yang terjatuh tadi dan kuberikan kepadanya sambil mengucapkan terima kasih. Ia pun membalas dengan tersenyum kecil kepadaku. Dan pada saat itu, aku akan selalu mengingat senyuman kecilnya milik Rezky.
                                                                      òòò
Beberapa hari berikutnya aku berharap Rezky itu datang lagi ke rumah, keesokan harinya dia datang lagi, saking senangnya hampir setiap hari aku meminta Rezky untuk datang kerumah dan bermain, dengan Raka dan aku. Saat di hari ulang tahunku tiba-tiba Rezky tidak datang ia bahkan tidak mengirimkan pesan kepadaku, padahal aku sangat berharap ia datang.
            Satu tahun telah berlalu, aku benar-benar tidak percaya bahwa Rezky sudah pergi meninggalkan ku dan hampir satu tahun juga aku tidak mendengar kabarnya tidak ada yang tahu ia kemana, keluarganya pun juga tidak dapat aku temukan keberadaannya. Aku sudah benar-benar frustasi dan tidak tahu apa yang akan aku lakukan dan hampir setahun juga aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi tidak bisa.a
15 Oktober 2011, di pagi hari yang cerah aku mendapat secarik kertas berupa undangan yang ditujukan kepada kedua orang tuaku, didalam surat tersebut tertulis bahwa aku CALISSA INDAH DIAMOND kelas IX1 telah lulus dari sebuah sekolah teladan di Palembang. Setelah kuserahkan surat tersebut kepada kedua orang tuaku, merekapun bertanya kepadaku “ Calissa, setelah lulus sekolah ini kemana engkau akan melanjutkan kuliahmu? “, akupun menjawab dengan dengan wajah yang bimbang “ Entahlah Ma, aku juga tidak tahu.”. Sejenak akupun berpikir bahwa aku ingin melanjutkan kuliah ke sebuah Universitas di London disana aku bisa melupakan Rezky dan fokus dengan sekolahku.
òòò
4 tahun telah berlalu, sekarang aku sudah bisa menjalani hidupku seperti biasa aku bahkan telah lupa semua kenangan tentang Rezky. Sekarang aku telah bekerja, aku memegang kendali atas perusahaan ayahku. Pada suatu pagi, aku sedang melihat-lihat karyawan ku bekerja dan seorang pembeli datang menghampiri tokoku. Pembeli tersebut bertanya, “ Berapa harga cincin kawin ini ”, sambil menunjuk sebuah cincin perak yang bertahtakan berlian, seorang karyawan menjawab, “ Cincin ini berharga Rp. 25.000.000 “ . Pembeli tersebut bertanya “ Siapa bos kalian, kenapa cincin yang berkualitas rendah seperti ini sangat mahal? “ tanyanya dengan nada meninggi, “ Maaf pak, harga cincin ini sudah sangat sesuai karena kualitasnya juga sangat bagus.” Saat aku mendengar keributan tersebut akun segera mengahampiri pembeli tersebut, akupun bertanya “ Ada yang bisa saya bantu pak? “, “ Ini, kenapa harga cincin seperti ini sangat mahal? “, sambil mengangkat wajah ke arahku. Akupun terkejut dan bergerak mundur beberapa langkah, aku benar-benar tidak percaya bahwa sosok Rezky sedang berdiri di depanku sambil tersenyum kecil seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya. Tiba-tiba Rezky menunduk di depanku dan ia pun bertanya, “ Diamond, want you marry me? “, aku benar-benar tidak percaya Rezky yang menghilang entah kemana kini ada didepanku dan mengajakku untuk menikah. Aku benar-benar tidak tahu apa aku harus menerima, atau menolak karena disatu sisi aku masih sakit hati karena ia pergi dapat kabar, dan di lain sisi aku masih menyayanginya, selama ia pergi hatiku tetap masih kosong dan tidak ada yang mengisi kecuali Rezky. Beberpa saat kemudian kedua orang tuaku dan orang tua Rezky datang menghampiri, dan ibuku memelukku dan berkata “ Selamat ya sayang “. Rezky pun maju kedepanku dan memasangkan cincin itu ke jariku, tiba-tiba tanganku seolah bergerak sendiri dan memeluk Rezky sambil berkata, “ Yes, I want “.




0 komentar:

Posting Komentar

 
;