Diamond
Ku
pukul bahu Rezky sambil berkata, “ Kemana saja kau selama ini, kenapa tidak
memberiku kabar dan tidak pernah
menghubungiku? “, dia pun menjawab sambil mengaduh kesakitan, “
Aduhhh...duhhh..., aku pergi untuk sekolah lagi pula aku gak mau kamu sedih karena
aku pergi, itu semua aku lakukan untuk kamu, Diamond karena cuma kamu yang aku
sayang. Kau tahu bahwa Diamond adalah nama Kesayanganku untukmu dan saat masih
kecil aku pernah bermimpi bahwa aku akan menikah dengan sebuah berlian, dan
berlian itu adalah kamu.
Matahari
yang menyengat membuatku lemas, walaupun sebenarnya aku adalah orang yang mempunyai
golongan darah O. Daun yang berada disekitarku berguguran seolah mencari tempat
berteduh dari panasnya matahari yang menyengat. Aku yang sedang bersantai di
pinggiran taman tampak seolah tenang dengan keadaan taman yang tidak begitu
ramai, panas yang menyengat membuat tenggorokanku kering dan untung saja, saat
di persimpangan jalan menuju taman, aku telah membeli beberapa snack dan
minuman serta bubble si permen karet favoritku. Kuambil sebotol minuman yang
sudah terbuka segera saja kuminum air tersebut. Sambil menikmati minumanku, aku
juga menyempatkan untuk memakan satu permen karet favoritku. Saat itu hatiku
benar-benar tentram karena tidak ada seorangpun yang menggangguku, tiba-tiba
aku mendengar suara berisik dari balik pohon yang berada dibelakangku. Saat kutengok
tidak ada siapapun disana tanpa ku hiraukan lagi aku kembali fokus menyegarkan
otakku. Oh ya, perkenalkan namaku Calissa Indah Diamond. Aku merupakan anak
pertama dan aku memiliki seorang adik laki-laki, kedua orang tuaku adalah
seorang pemilik perusahaan perhiasan ternama di Indonesia tentunya dan itulah
alasan kenapa aku diberi nama Calissa Indah Diamond. Aku juga orang yang cukup
tersohor disekolahku karena kesempurnaan yang kumiliki bukannya sombong,
didalam prestasi aku sangat baik, wajah perfect, dan sikap good.
òòò
Kehidupanku
masih normal seperti biasa tidak ada yang berubah, tapi itu tidak bertahan
lama. Saat roda sudah berputar aku benar-benar tidak tahu apa aku berada di
atas atau di bawah. Beberapa hari ini aku mendapat banyak kesialan yang tidak
terduga, dari saat aku berangkat ke sekolah, dasiku hilang, bukuku basah karena
disiram adikku dan saat pulang ke rumah, aku tergelincir di teras depan, dan
menabrak meja. Gara-gara ini aku tidak bisa bersekolah berhari-hari. Keesokan
harinya, saat aku sedang berada di teras dekat kolam renang. Adikku Raka
diam-diam mengambil headphone kesayanganku, saat aku melihat ia memakai
headphone aku berusaha untuk mengambilnya kembali. Tiba-tiba datang sebuah
mobil Mercedez Benz hitam yang berhenti tepat di depan rumah kami. Lalu keluar
seorang lelaki yang sebaya dengan ibu dan ayahku menyapa ibuku, ibuku pun
mempersilakannya masuk dan menyuruhnya menunggu sementara ayah turun. Aku yang
masih berlari terseok-seok karena kakiku yang masih memar, berusaha mengambil
kembali headphoneku dari Raka tapi Raka malah membawaku berlari hingga ke teras
depan dan tiba-tiba aku menabrak seorang laki-laki yang sedang membawa sebuah
bingkisan. Bingkisan tersebut terlempar ke atas dan aku pun terjatuh hampir
menyentuh lantai dan, untungnya tidak karena aku diselamatkan oleh laki-laki
tadi. Tiba-tiba mataku terpana saat menatap matanya yang bewarna biru pekat
bercampur putih warna awan. Lalu dia bertanya, “ apa kau baik-baik saja? “, Aku
yang masih termangu diam tidak menyapa lalu dia melambaikan tangannya tepat
dimataku dan membuatku tersadar dari lamunanku. Akupun menjawab dengan cepat, “
Ya, aku baik-baik saja “. Segera ku punguti bingkisan yang terjatuh tadi dan
kuberikan kepadanya sambil mengucapkan terima kasih. Ia pun membalas dengan
tersenyum kecil kepadaku. Dan pada saat itu, aku akan selalu mengingat senyuman
kecilnya milik Rezky.
òòò
Beberapa
hari berikutnya aku berharap Rezky itu datang lagi ke rumah, keesokan harinya
dia datang lagi, saking senangnya hampir setiap hari aku meminta Rezky untuk
datang kerumah dan bermain, dengan Raka dan aku. Saat di hari ulang tahunku
tiba-tiba Rezky tidak datang ia bahkan tidak mengirimkan pesan kepadaku,
padahal aku sangat berharap ia datang.
Satu tahun telah berlalu, aku
benar-benar tidak percaya bahwa Rezky sudah pergi meninggalkan ku dan hampir
satu tahun juga aku tidak mendengar kabarnya tidak ada yang tahu ia kemana,
keluarganya pun juga tidak dapat aku temukan keberadaannya. Aku sudah
benar-benar frustasi dan tidak tahu apa yang akan aku lakukan dan hampir
setahun juga aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi tidak bisa.a
15
Oktober 2011, di pagi hari yang cerah aku mendapat secarik kertas berupa
undangan yang ditujukan kepada kedua orang tuaku, didalam surat tersebut
tertulis bahwa aku CALISSA INDAH DIAMOND kelas IX1 telah lulus dari
sebuah sekolah teladan di Palembang. Setelah kuserahkan surat tersebut kepada kedua
orang tuaku, merekapun bertanya kepadaku “ Calissa, setelah lulus sekolah ini
kemana engkau akan melanjutkan kuliahmu? “, akupun menjawab dengan dengan wajah
yang bimbang “ Entahlah Ma, aku juga tidak tahu.”. Sejenak akupun berpikir
bahwa aku ingin melanjutkan kuliah ke sebuah Universitas di London disana aku
bisa melupakan Rezky dan fokus dengan sekolahku.
òòò
4
tahun telah berlalu, sekarang aku sudah bisa menjalani hidupku seperti biasa
aku bahkan telah lupa semua kenangan tentang Rezky. Sekarang aku telah bekerja,
aku memegang kendali atas perusahaan ayahku. Pada suatu pagi, aku sedang
melihat-lihat karyawan ku bekerja dan seorang pembeli datang menghampiri
tokoku. Pembeli tersebut bertanya, “ Berapa harga cincin kawin ini ”, sambil
menunjuk sebuah cincin perak yang bertahtakan berlian, seorang karyawan
menjawab, “ Cincin ini berharga Rp. 25.000.000 “ . Pembeli tersebut bertanya “
Siapa bos kalian, kenapa cincin yang berkualitas rendah seperti ini sangat
mahal? “ tanyanya dengan nada meninggi, “ Maaf pak, harga cincin ini sudah
sangat sesuai karena kualitasnya juga sangat bagus.” Saat aku mendengar
keributan tersebut akun segera mengahampiri pembeli tersebut, akupun bertanya “
Ada yang bisa saya bantu pak? “, “ Ini, kenapa harga cincin seperti ini sangat
mahal? “, sambil mengangkat wajah ke arahku. Akupun terkejut dan bergerak
mundur beberapa langkah, aku benar-benar tidak percaya bahwa sosok Rezky sedang
berdiri di depanku sambil tersenyum kecil seperti saat pertama kali aku bertemu
dengannya. Tiba-tiba Rezky menunduk di depanku dan ia pun bertanya, “ Diamond,
want you marry me? “, aku benar-benar tidak percaya Rezky yang menghilang entah
kemana kini ada didepanku dan mengajakku untuk menikah. Aku benar-benar tidak
tahu apa aku harus menerima, atau menolak karena disatu sisi aku masih sakit
hati karena ia pergi dapat kabar, dan di lain sisi aku masih menyayanginya,
selama ia pergi hatiku tetap masih kosong dan tidak ada yang mengisi kecuali Rezky.
Beberpa saat kemudian kedua orang tuaku dan orang tua Rezky datang menghampiri,
dan ibuku memelukku dan berkata “ Selamat ya sayang “. Rezky pun maju kedepanku
dan memasangkan cincin itu ke jariku, tiba-tiba tanganku seolah bergerak
sendiri dan memeluk Rezky sambil berkata, “ Yes, I want “.



0 komentar:
Posting Komentar